the sister in rexfire forever and always together:
By : Narulyta Zamania: By : Narulyta Zamania
Fian Nisa
Minggu, 14 April 2013
Aku takkan bisa benci ayah..
AKU TAKKAN BISA BENCI AYAH
“Uhh... ” keluhku pada bulan. Aku
sadar, tak ada gunanya aku mengeluh begitu. Ya, kejadian hari ini. Aku dipecat
dari restoran karena kecerobohanku menumpahkan teh pada baju pelanggan yang
terlihat mahal. Masih terngiang pila kata- kata si Bos “Gajimu 4 bulan belum
tettu cukup mengganti baju itu”katanya marah... “Sudahlah Kiran, tidak usah kau
pikirkan. Cari saja kerjaan lain.Toh di Jakarta Restoran tak hanya satu.” Kata Bunda
menghampiriku yang sedang kesal lahir batin.. (Emang apa’an. Kirani lebay ahh..
Baru dipecat.) Back to story.. Dengan lembut Bunda mengusap rambut hitamku yang
panjang terurai. Ku lihat sayup matanya yang sendu, membuatku benar- benar
merasa tenang. Ahh... Aku tak pantas mengeluh. Aku harus tetap bekerja demi
Bunda dan Rifki. Ayah.... Ayah saat usiaku baru 7 tahun. Dan saat itu, Bunda
mengandung Rifki. Aku pernah bersumpah, takkan pernah lagi mengakuinya ayah
karena telah meninggalkanku, Bunda dan Rifki. Jahat memang... Tapi.. Jahat mana
meninggalkan Kami selama 10 Tahun. Dulu, Bunda yang bekerja di toko roti.
Namun, saat ini Bunda terlalu tua untuk itu. Akulah yang sekarang bekerja.
Sebagai anak pertama, yang menjadi tulang punggung keluarga. Hmm... Kadang
Rifky juga ikut mencari uang. Ia biasanya ke warung Pok Leha untuk sekedar
beres- beres. Meski, upahnya hanya Rp. 5000,- tetap berharga untuk kami.
Esoknya, aku pergi melamar kerja.
“Kirani, Bunda do’akan segera mendapatkan pekerjaan.” Ujar Bunda. Aku
memeluknya, mencium pipinya dan tersenyum padanya. Oh.. Bunda.. sumber
kekuatanku. Aku berjalan kaki sejauh ini. Tak terasa, di hadapanku terpampang
nyata (Emang Syahrini??) “RESTORAN BAKSO ANUGERAH”. Segera saja kumasuki. Dan
benar, mereka sedang mencari pelayan. Yah, beruntung aku langsung diterima.
Saat aku sedang sibuk memperhatikan Kepala Pelayan yang sedang menjelaskan
tugasku, tiba- tiba datang seseorang. Beliau memakai jas rapi, sepatunya
mengkilat, dan rambutnya klimis khas salon. “Bos, ini dia pelayan yang melamar.
Saya langsung terima karena memang kekurangan pelayan” ungkap si Kepala
Pelayan. Dengan angkuhnya, dibuka kacamata si Bos. Ketika melihat seluruh
wajahnya, aku terkejut. Ia pun tampak melongo melihatku. “Ayah...” kataku
spontan. “K.. k.. Kirani???”katanya. Kepala Pelayan terkejut. Setahunya, Bosnya
ini masih sendiri. Taunya... Tiba- tiba... Ayah memelukku, ia menangis. Namun,
aku mengelak dan segera pergi dati tempat itu. Pak Usman, ayahku hanya terdiam.
Memandangku dengan rasa bersalah. Aku memutuskan pulang dan segera bercerita
pada Bunda. Entah bagaimana ekspresinya. Ternyata, Bunda terkejut. Beliau tahu
apa yang kurasakan. Makanya, ia tak berani membahas tentang pekerjaan.
Tok... tok ... tok... “Biar Bunda
yang membuka Pintu. Kmau ganti baju, lalu makan siang ya. ”katanya. “ya Bunda”
jawabku. Aku lalu melaksanakan yang Bunda suruh. Saat pintu dibuka.. “Mas
Usman” kata Bunda terkejut. “Lasmi.. “ Kata Ayah, lalu memeluk Bunda erat.
Berkali- kali Ayah minta maaf pada Bunda dan menjelaskan apa yang sebenarnya
terjadi. Rupanya, Ayah masih ingat saja dimana meninggalkanku, Bunda dan Rifki.
“Assalamualaikum Bunda” kata Rifki pulang sekolah, mencium tangan Bunda.
“Waalaikumsalam sayang. Rifki udah pulang” jawab Bunda senang. “Ada tamu Bunda”
lanjut Rifki. “Ia sayang, salim dulu gih”. “Lasmi.. Diaa... dia bayi yang ada
dalam kandunganmu 10 tahun lalu” ungkap Ayah terperanjat. “Iya” jawab Bunda
tersenyum. Ayah lalu memeluk Rifki, menciumnya penuh kerinduan. “Ini Ayah...
Rifki”. “Nggakkk mungkin!!! Rifki nggak punya Ayah, Ayah Rifki udah meninggal..
Rifki Yatim!!” Bentak Rifki lalau segera menuju kamar dan menguncinya.
Terdengar pula isak tangisnya. Ayah pulang dengan tak bersemangat, pulang ke
rumahnya. “Mereka hanya perlu waktu untuk menerimamu. Percayalah, mereka akan
menerimamu” ucap Bunda. “Ya, Aku percaya Kamu. Aku akan sering datang kemari.
Untukmu, dan mereka. Sampai kapanpun, Kau tetap istriku.” Kata Ayah sambil
mencium kening Bunda. Lalu pergi...
Dua bulan berlalu, selama itu.. Ayah
berusaha keras mengambil hatiku dan Rifki. Setiap hari Ayah mengirimkan barang-
barang mewah untuk kami. Hingga akhirnya, Aku dan Rifki menyerah. “Ayaahh.... ”
ungkap Kami bersamaan ketika Ayah berada di pintu dan segera menghambur
kepelukannya. “Ayah sayang kalian... Maafkan Ayah. Bukan maksud Ayah melupakan dan
mentelantarkan kalian” kata ayah terisak. “Ya, Ayah.. Rifki sayang AYah” isak Rifki. “Kirani
ngerti Yah..” ungkapku. Ayah bekerja di kota. Uang telah membuat Ayah lupa segalanya.
Bahkan, sempat ayah tergiur wanita. Ayah bilang, pernah hampir menikahi Janda
kaya. Tapi.. ternyata janda itu meninggal dalam sebuah kecelakaan. Ia memberikan
sebagian hartanya untuk hidup Ayah selanjutnya. Ayah mengingat kami karena
sewaktu membuka dompetnya, terdapat fotoku dengan Bunda. Hingga akhirnya
pertemuan kami di Restoran. Kami semua tinggal di rumah besar Ayah. Ayah..
bagaimanapun kau tetap ayahku. Dan aku, takkan pernah bisa membencimu. Aku
sayang Ayah... Eeehh.. Rifki juga ^__^. “Akhirnya, Aku bisa melihat Bunda
tersenyum bahagia”. Kataku saat duduk di sofa yang super nyaman. “Itu berkat
Ayah tau..” kata Ayah lalau mencium keningku. Kami pun tertawa bersama. We always
love you and never hate you my lovely dad.
THE END
Dilema 2 Cinta
Dilema 2 Cinta #Part 1
DILEMA 2 CINTA
#Part 1 (Kerja Kelompok)
Pagi
yang cerah ini, tak secerah alunan musik dan hatiku. Aku masih terkejut
saat tau ternyata teman sekelas kak Rian juga menyukai kak ALan
spertiku. Huuhh... Saingan lagi.. Saingan lagi... Denger denger sih,
namanya Sora. Kayak artis Kore deh"Kang Sora", itu tuh... pemeran "Ha Chun Hwa" di film "Sunny" yang dirilis pada tahun 2011. (Hafal amatt). Lanjutt... Aku sengang muter lagu d'Masiv - Dia Atau Aku. Yahh... mewakili perasaanku lahh. "De, ada kak Alan tuh" kata kak Rian setengah
triak karena musik di kamarku terlalu keras. "Trus??? Ntar gangguin
kerja kelompoknya lagi kak" jawabku malas. "Katanya mau kak Alan dateng
ke rumah. Giliran dateng, nggak ditemuin... Ntar nyesel lo.. " kata kak
Rian menggodaku."Udahlah De', nggak usah dipikir saingan kamu ntu.
Cantikan kamu kemana- mana kok" lanjurnya sambil membelai rambutku. "Ya
deh Kak" aku tersenyum pada kak Rian. Kakakku yang paling bikin aku
tenang, gak kayak kak Ray, kakakku yang satunya. Godaaiiinn mulu
kerjaannya. Tu pacarnya gak ilfill apa deket- deket dia. Back...Dengan
perasaan dag dig dug.. AKu keluar kamar. "Pagi Ne Ne" sapa kak Alan...
Senyumnya merekah.. Bagai bunga yang bermekaran. "Pagi juga kak Alan"
jawabku lalu tersenyum. Nggak sadar, sangking fokus natap wajahnya kak
Alan.. Akunempatin kaki di lantai, padahal masih ada tangga nomor 1 (Parkir kali nomor2an.. )... Untung ada kak Ray yang nolongin aku.. (Nggak sampai jatuh).
"Ati2 Dek... Mentang2 ada pangeran klimis, jadi salting" candanya
berbisik. "Ya ya kak.." jawabku melengos, lalu kak Ray ke kamarnya.
Pasti molor. Biasa, Minggu2 begini emang gitu kerjaan kak Ray.. M O L O R.
Kak Alan untungnya nggak liat waktu aku salah nempatin kaki. Kak Rian
satu kelas sama kak Alan, pangeran klimisku.. he he he... Kenapa
klimis?? pasti pada bertanya- tanya... (PD pakek banget lagii)
soalnya, poninya itu lhoo... ditaruh nyamping.. Kereeenn banget. Aku
duduk di samping kak Alan. Dag .... Dig ... Dug... Ngobrol deh sama kak
Alan. Untung, aku bisa ngontrol diri. Nggak sampe' pingsan. Aku kenal
kak Alan karena MOS. Dia jadi pendamping kelasku. Aku kaget, saat tau
kak ALan sekelas sama kak Rian. Waktu itu, aku ngambil I- Padnya kak
Rian di kamarnya, pas kubuka, wallpapernya temen sekelas kak Rian.
Disitu ada kak Alan. Pas aku senyam2 senyum liatin foto kak Alan, tiba2
kak Rian dateng.. Kepergok deh,. Mampus..
"Hai semua, sorry ya telat" kata seorang cewek mengagetkanku yang
sedang asyk ngobrol sama kak Alan. "Eh, Sora.. Datengnya besok aja..
kenapa sekarang.." Kata kak Rian jengkel."Sorry Yan, tadi tu ada
keperluan bentar." kata cewek yang retnyata bernama S O R A. Aku
tersentak, Sora??? Jadi ini orangnya. Bener kata Kak Rian, cantikan aku
kemana- mana. Sora orangnya tinggi, langsing, pakek behel, rambutnya
rebondingan lagi. kenapa gak sekalian pakek kacamata bunder kayak Harry
Potter. Biar tambah culun tuh muka. "De', udahan ya, kakak mo ngerjain
tugas dulu. Ntar, kalo udah selesai balik lagi. Sono, main.." paksa kak
Rian. "Ya.. ya" kataku cuek sambil ninggalin ruang tamu. Kak Alan
tersenyum liat tingkahku... OMG!!! Senyum kak ALan!!!! Aku lalu menuju
ruang keluarga, nonton TV ahh... Aku nyalain tv, eh.. ada d'Masiv di
salah satu acara musik. "Ne, d'Masiv ya.. kencengin donk" pinta kak
Alan. "Ya Kak" jawabku. Kak Alan juga suka d'Masiv :).. so sweet.. 15
menit berlalu, aku mindah mindah channel mulu karena nggak ada acara
yang cocok. d'Masivnya udah bubaran. Aku liatin wajah kak Alan. Kulit
coklat tua, rambut klimis senyumannya.. We O We dehh.. Bikin meleleh
hati siapa aja yang liat. "Bosen ah. Yan, pinjem gitarnya donk" kata kak
Alan. "Tuh, ambil aja di depan tv" sahut kak Rian. Aku terkejut, lalu
segera memalingkan muka ke arah tv. Saat kak Alan ambil gitar, gambar di
tv nampakin close- up kunti berwajah
suerreeemm. Dengan sound yang bikin gemeter, bahkan pingsan.. Sontak,
aku teriak dan dan nggak sengaja meluk tangan kak Alan. Kak ALan segera
mengambil remote yang tadi aku lempar dan mindahin channelnya. "Udah Ne,
hantunya nggak ada lagi" kata kak Alan lembut. Oh.. AKu baru sadar aku
ngapain kak Alan. Aku berjingkat, lalu cengengesan. "Makanya, kalo
nonton TV tuh yang dilihat TVnya, bukan yang lain" goda Kak Rian. "Yee..
orang Ne Ne liatin Tvnya kok" jawabku sewot. Lagi - lagi Kak Alan hanya
tersenyum, megang gitar. "Boleh duduk disini?" tanya kak Alan."Boleh
pakek banget malah" kataku tersenyum. Sangat terlihat, wajah si Sora
jealos2 gitu.. Sedangkan kakakku tercinta (Kak Rian)... cuma tersenyum
kecut. "Ne Ne mau lagu apa?" tanya kak Alan padaku. "Gimana kalo Naksir
nya d'Masiv" jawabku berbinar. Lalu, kak Alan mainin gitarnya (kak
Rian), sambil nyanyi. Ahh.. AKu cuma liatin wajahnya, suaranya... Merduu
banget kalo nyanyi. Kalo boleh, saat itu aku mending pingsan aja. Nggak
kuat liat mukanya.. Lebih nggak kuat denger suaranya nyanyi. "Sekarang,
Ne Ne ikut nyanyi. Kita duet" Kata kak ALan tiba2. Mataku semakin
berbinar. Aku nyanyi, ngikutin irama.. Lirik lagunya, sama kayak keadaan
aku sekarang... I ♥ kak Alan...
"Udahan nyanyinya, ni kerjaan belom selesai nih Lan" ucap Sora ketus. "Ihh.. Ni orang" batinku. "O ya, sampek lupa. Ya udah. Ne Ne, slesain dulu ya" kata kak ALan.. "Ya kak" jawabku lemas.. "Makanan dataanggg... " teriak kak Ray. Kak Ray ternyata beli burger. 2 bungkus.. Bungkus yang satu dikasih ke ruang tamu. Sora dan kak Alan ngambil barengan. Iihhh.. Pengen rasanya ngrampas tu bungkus... "Ni Dek, buat kamu. dihabisin ya" ucap kak Ray. "Hmm"jawabku. Kak Alan ngasih bungkusannya kek Sora... "Kamu duluan" ucap kak ALan ketus."Ye... Ngambek" goda Sora tertawa. Kak Rian dan Kak Alan diem. sukurin... batinku. "De, pindah acara gosip ya... "pinta kak Ray. "Idih... Cowok doyan banget nnton gosip. Nonton sendiri tapi ya" kataku sambil beranjak pergi.. memukul lengan kak Ray. "Eh.. Awas yaa" kak Ray geram. Mengejarku... Aku setengah lari ke ruang tamu. "Nggak kena :P" ejekku. Aku lari ke luar rumah. "Nggak boleh masuk" kata kak Ray sambil menutup pintu.. "Ya udah, skalian pamit.. Mo kerumah Ella" kataku berjalan keluar. Kak Alan yterpingkal- pingkal liat kelakuan kita (Aku + Kak Ray). "Sumpah... Lama2 aku disini.. Jadi gila" katanya sambil ketawa lebar. "Itulah yang bikin rumah ini rame" kata kak Rian bangga. "Ha ha ha " Ketawa terus nih Kak Alan. "De'... Mau kemana?? Ntar ilang lho.. Rumah Ella jauh De'.. " kata kak Ray keluar. Saat itu, aku yang sembunyi da bagian samping rumah ngagetin kak Ray, lalu gelitikin dia ampe' dia nangis. "Ne Ne.....Awas yaa" triaknya kenceng. AKu langsung lari masuk rumah, ku kunci pintunya. "Sekarang, kak Ray yang gak boleh masuk!! Tidur aja di rumah babang2 tukang burger" teriakku. "De'... Buka pintunya.. De'...." Teriak kak Ray. "Udah ah capek..." kataku lalu menghempaskan tubuh di sofa samping kak Alan. Terengah - engah... "De', buka pintunya" kata kak Ray (Lagi)."gak mau!!!" teriakku. "De'.. De'... "ucap kak Rian geleng2 kpala, trus bukain pintu buat kak Ray. Saat masuk, aku sembunyi di balik badannya kak ALan yang sedari tadi ketawa mulu.. "GR... Ye.. Ne Ne GR.. " kata kak Ray lalu nglanjutin agenda Minggunya setelah Molor, yaitu.. trenteng trenteng trenteengg.. Nonton acara Gosip... "Capek ya De'.. Sini.. Kakak kipasin" kata kak Rian. "Nggak mau ah kalo ama kak Rian, mending ama kak ALan aja." kataku asal ceplos. Nampaknya kak ALan kaget mendengar itu. Hadduuhh.. slah ngomong..
Nggak terasa, udah siang rupanya. Kak Alan dan Sora pamit pulang. "Ne ne, AKu pulang dulu ya, jangan kangen" kata Kak Alan sampek depan pintu. AKu yang ngekor kak Rian tersentak. "Ha ha ha.. Nggak2 Kak.. Kan besok ketemu di sekolah" kataku sekenanya. "Ya..ya.. Sampe ketemu besok ya... " ucapnya sambil ngacak2 rambutku... "Kak Alaann.." teriakku manja. "Merah tuh wajah kamu" bisik kak Rian. "Kak Alan!! Acak2 rambutnya kurang kenceeeeng.. " teriak kak Ray yang di depan TV. Sontak, aku lempar bantal yang ku pegang ke arah kak Ray. "AMpun De'.. AMpun" katanya dengan wajah melas. Kak ALan pulang bareng Sora. Enak banget Sora naik motornya kak ALan... Sebelum beranjak pergi, pemilik motor Ninja warna merah itu, melempar senyum kearahku... Dan, kutangkap melalui hatiku.. so sweet...
TO BE CONTINUED
Langganan:
Postingan (Atom)

